Penyelenggaraan dibagi menjadi dua hari. Kamis (8/10/2026)), panggung diisi kategori pelajar. Jumat (9/10/2026), giliran kategori umum tampil.
Pada hari pertama, kegiatan yang dijadwalkan dimulai pukul 19.30 WITA sempat tertunda akibat hujan deras yang mengguyur lokasi. Meski demikian, lomba tetap dilaksanakan setelah hujan mereda menjadi gerimis, dan para peserta tetap tampil dengan semangat.
Peserta kategori pelajar berasal dari tiga jenjang pendidikan, yaitu SD, SMP, dan SMA, yang digabung dalam satu kategori. Mereka tampil sesuai nomor urutan yang telah ditetapkan panitia, antara lain Sanggar Tari Lestari (STL) Seimenggris, Decur Do Taga, SDN 002 Nunukan, SMPN 1 Nusa, Sanggar Tari Spandanu SMPN 2 Nunukan, SMPN 1 Nunukan Selatan, Spaga Nunukan SMPN 3 Nunukan, Selendang Mayang, dan SDN 006 Nusa.
Peserta memperebutkan juara 1, 2, dan 3, serta penghargaan Juara Favorit. Penghargaan yang sama juga diperebutkan di kategori umum.
Penampilan peserta dinilai tiga dewan juri yang berpengalaman di bidang seni tari.
Juri pertama, Irwansyah, S.E., adalah penata tari dan koreografer yang berkiprah di tingkat daerah hingga nasional. Ia pernah menjuarai Festival Tari Kreasi Daerah Pesisir/Pedalaman se-Kalimantan Utara pada 2023 dan 2025, menjadi penata tari dalam Temu Karya Tari se-Indonesia ke-XXII di Bandung pada 2023, serta menjadi koreografer pada Festival Kebudayaan Antarbangsa Tawau tahun 2024. Ia juga aktif sebagai Ketua Sanggar Tari Nunukan Etnika dan telah menciptakan sejumlah karya tari, di antaranya Tari Saung, Tari Lulantatibu, dan Tari Talawang.
Juri kedua, Asmadi, adalah pelatih tari sekaligus pemusik. Ia berulang kali meraih penghargaan penyaji terbaik dan penata tari terbaik dalam festival tari kreasi tingkat Kabupaten Nunukan sejak 2006. Ia juga pernah mewakili Indonesia dalam Festival Kebudayaan Antarbangsa di Tawau, Sabah, Malaysia, pada 2019, serta mewakili Kalimantan Utara pada Majapahit International Travel Fair di Surabaya pada tahun yang sama.
Juri ketiga, Sri Utaminingsih, adalah dewan juri bersertifikasi yang juga berprofesi sebagai pelatih dan pelaku seni.
Kendati diguyur hujan, antusiasme peserta dan penonton tidak surut. Lomba ini diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkreasi, mengasah bakat, dan terus melestarikan seni budaya daerah, sekaligus menyemarakkan peringatan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan.(Adv)





