Kreasi busana yang ditampilkan sepasang peserta laki-laki dan perempuan itu memadukan warna hijau, putih, merah, dan kuning. Penampilan tersebut tidak hanya memeriahkan perayaan hari jadi daerah, tetapi juga membawa pesan mengenai kekayaan sumber daya alam, keberagaman, serta pentingnya pembangunan sektor pertanian.
Kepala DKPP Kabupaten Nunukan, Masniadi, S.Hut., M.AP., melalui Kepala Bidang Penyuluhan, Widodo, S.PKP., M.Si., menjelaskan bahwa gagasan busana hasil bumi tersebut merupakan bentuk kreativitas untuk memperkenalkan potensi pertanian dengan pendekatan seni dan budaya.
Menurut Widodo, hasil pertanian memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar komoditas pangan dan sumber penghasilan masyarakat. Potensi tersebut juga dapat menjadi inspirasi dalam menghasilkan karya kreatif yang menarik sekaligus menyampaikan pesan pembangunan kepada masyarakat.
“Melalui kreasi busana hasil bumi ini, kami ingin memperkenalkan potensi pertanian Kabupaten Nunukan dengan cara yang kreatif dan menarik. Hasil pertanian bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang kekayaan alam, peran petani, dan pentingnya menjaga ketahanan pangan,” ujar Widodo, pada Minggu (11/10/2026)
Ia menjelaskan, perpaduan warna dalam busana tersebut memiliki makna yang menggambarkan semangat pembangunan pertanian. Warna hijau melambangkan kesuburan dan pertumbuhan, putih mencerminkan ketulusan serta persatuan, merah menggambarkan keberanian dan daya juang, sedangkan kuning melambangkan kemakmuran dan harapan akan kesejahteraan.
“Keberagaman warna dan bentuk dalam busana ini menggambarkan kekayaan sumber daya alam, komoditas pertanian, serta budaya masyarakat Nunukan. Kami ingin menyampaikan bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang perlu disatukan untuk membangun sektor pertanian yang lebih maju,” tambahnya.
Penampilan sepasang peserta juga merepresentasikan kebersamaan dan kolaborasi berbagai elemen masyarakat dalam mendukung pembangunan pertanian. Pesan tersebut sejalan dengan pentingnya sinergi antara pemerintah, penyuluh, petani, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi daerah.
Widodo menegaskan, pembangunan pertanian tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga perlu didukung kreativitas, inovasi, pemanfaatan teknologi, serta pemberdayaan petani agar mampu meningkatkan nilai tambah hasil pertanian.
“Pembangunan pertanian membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Melalui penyuluhan dan pendampingan, petani didorong untuk terus meningkatkan pengetahuan, memanfaatkan teknologi, serta mengembangkan potensi yang dimiliki agar hasil pertanian dapat memberikan manfaat lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Partisipasi DKPP Nunukan dalam Pawai Budaya HUT ke-27 Kabupaten Nunukan juga menjadi sarana komunikasi publik untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap potensi pertanian lokal. Melalui pendekatan seni dan budaya, pesan mengenai pentingnya sektor pertanian diharapkan dapat diterima masyarakat secara lebih dekat dan menarik.
Widodo berharap, kreativitas tersebut dapat mendorong masyarakat untuk semakin menghargai hasil bumi dan kerja keras petani yang berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan.
“Dari bumi kita belajar tentang keberagaman, dari petani kita belajar tentang perjuangan, dan melalui kebersamaan kita membangun masa depan pertanian yang lebih sejahtera. Harapannya, potensi pertanian lokal semakin dikenal dan terus dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan serta kesejahteraan petani,” tutupnya.
Raihan juara III kategori umum menjadi capaian DKPP Kabupaten Nunukan dalam memeriahkan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan. Lebih dari sekadar penghargaan, penampilan busana hasil bumi tersebut menjadi pesan bahwa kekayaan alam dan keragaman budaya dapat menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya sektor pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan. (Adv)





