NARASI POSITIF.com, NUNUKAN – Di tengah banjir informasi yang mengalir tanpa henti, profesi pers sering kali direduksi sekadar sebagai pekerjaan menulis berita. Jurnalis dianggap selesai ketika kalimat telah rapi, judul menarik, dan tayang tepat waktu. Padahal, di balik setiap teks yang terbit, ada tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar memenuhi kolom media. Insan pers sejatinya bukan hanya penulis peristiwa, melainkan penjaga nurani publik, penyambung suara yang terpinggirkan, sekaligus pengingat bagi kekuasaan agar tidak lupa batas.
Pers lahir bukan dari ruang hampa. Ia tumbuh dari kebutuhan masyarakat untuk mengetahui, memahami, dan mengawasi realitas sosial. Dalam sejarahnya, pers selalu hadir sebagai kekuatan penyeimbang. Ia berdiri di antara kepentingan negara, pasar, dan rakyat, dengan satu kompas yakni kebenaran. Ketika pers kehilangan kompas itu, maka yang tersisa hanyalah teks tanpa jiwa, berita yang ramai dibaca, tetapi sunyi makna.
Menulis adalah alat, bukan tujuan. Bagi insan pers, tulisan hanyalah medium untuk menghadirkan fakta, mengungkap ketimpangan, dan menyampaikan realitas apa adanya. Jika menulis dijadikan tujuan akhir, sekadar mengejar klik, trafik, atau popularitas maka pers telah bergeser dari perannya yang paling hakiki.
Di sinilah perbedaan mendasar antara “penulis konten” dan “insan pers”. Penulis konten tunduk pada algoritma, sementara insan pers tunduk pada nurani. Penulis konten mengejar atensi, insan pers mengejar substansi. Dalam kondisi ini, menjaga nurani publik berarti berani melawan arus ketika mayoritas media memilih aman, netral semu, atau bahkan tunduk pada kepentingan pemilik modal.
Pers yang berorientasi nurani tidak selalu menyenangkan. Ia sering kali mengganggu, memancing kemarahan, dan memaksa publik bercermin pada realitas yang tidak nyaman. Namun justru di situlah fungsi pers bekerja, bukan untuk menghibur kekuasaan, melainkan untuk mengingatkan bahwa kekuasaan selalu berpotensi menyimpang.
Insan pers juga berperan sebagai penjaga ingatan kolektif masyarakat. Dalam dunia yang bergerak cepat, skandal hari ini bisa dilupakan esok pagi. Ketidakadilan yang kemarin viral, hari ini tenggelam oleh isu baru. Pers hadir untuk menolak lupa. Ia mencatat, mengarsipkan, dan mengingatkan bahwa sebuah masalah belum selesai hanya karena tidak lagi ramai diperbincangkan.
Ketika kasus pelanggaran hak asasi manusia tidak dituntaskan, ketika kebijakan publik melukai rakyat kecil, atau ketika janji politik dilupakan, pers memiliki kewajiban moral untuk terus mengangkatnya. Bukan karena dendam, tetapi karena keadilan membutuhkan ingatan yang panjang. Masyarakat yang mudah lupa adalah masyarakat yang mudah dimanipulasi.
Dalam konteks ini, insan pers bukan hanya bekerja untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Tulisan yang jujur hari ini bisa menjadi rujukan sejarah esok hari. Sebaliknya, kebohongan yang dibungkus rapi akan menjadi warisan gelap bagi generasi berikutnya.
Menjadi penjaga nurani publik berarti berdiri di posisi yang tidak selalu aman. Insan pers sering kali berada di persimpangan, antara idealisme dan tekanan, antara kebenaran dan kenyamanan. Tekanan itu bisa datang dari negara, korporasi, pemilik media, bahkan dari publik sendiri yang telah terpolarisasi.
Di era digital, tantangan pers semakin kompleks. Bukan hanya sensor yang mengancam, tetapi juga disinformasi, buzzer, dan politik identitas. Pers dipaksa berlomba dengan kecepatan media sosial, sementara verifikasi membutuhkan waktu. Dalam situasi ini, godaan untuk mengorbankan akurasi demi kecepatan menjadi sangat besar.
Namun justru di sinilah integritas insan pers diuji. Menjadi penjaga nurani publik berarti berani melambat ketika semua orang ingin cepat, berani berbeda ketika semua orang ingin seragam, dan berani berkata “tidak tahu” ketika informasi belum terverifikasi. Kredibilitas pers tidak dibangun dari sensasi, tetapi dari konsistensi moral.
Kode etik jurnalistik menyediakan aturan, tetapi nurani menyediakan arah. Etika bisa ditulis, tetapi nurani harus dihidupi. Tanpa nurani, etika mudah dinegosiasikan. Tanpa nurani, objektivitas berubah menjadi dalih untuk netral terhadap ketidakadilan.
Pers tidak pernah benar-benar netral dalam arti moral. Ketika ada penindasan, pers tidak bisa berdiri di tengah dan berkata “dua-duanya sama”. Menjaga nurani publik berarti berpihak—bukan pada kelompok atau ideologi, tetapi pada nilai kemanusiaan. Pada mereka yang suaranya diredam, pada fakta yang ditutupi, dan pada kebenaran yang berusaha disembunyikan.
Keberpihakan inilah yang sering disalahpahami. Pers yang kritis kerap dituduh melawan negara, mengganggu stabilitas, atau memiliki agenda tersembunyi. Padahal, kritik adalah bentuk cinta yang paling jujur. Pers yang diam justru lebih berbahaya, karena membiarkan kesalahan tumbuh tanpa koreksi.
Generasi muda yang masuk ke dunia pers hari ini menghadapi dilema ganda. Di satu sisi, mereka hidup di era keterbukaan informasi. Di sisi lain, mereka terjebak dalam ekosistem media yang semakin pragmatis. Upah rendah, beban kerja tinggi, dan tuntutan produktivitas sering kali menggerus idealisme sejak dini.
Namun, sejarah pers tidak pernah dibangun oleh mereka yang memilih jalan mudah. Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia membayar harga untuk kebenaran. Menjadi insan pers bukan sekadar profesi, melainkan panggilan etis. Ia menuntut keberanian, ketekunan, dan kesediaan untuk tetap waras di tengah tekanan.
Menjaga nurani publik di era ini berarti juga melawan kelelahan moral. Tidak semua berita harus viral, tetapi setiap berita harus dipertanggungjawabkan. Tidak semua opini harus disukai, tetapi harus jujur. Dan tidak semua kritik akan langsung membawa perubahan, tetapi tanpa kritik, perubahan hampir mustahil terjadi.
Demokrasi tanpa pers yang merdeka hanyalah prosedur tanpa substansi. Pemilu bisa berlangsung, lembaga bisa berdiri, tetapi tanpa pers yang kritis, semua itu kehilangan makna. Insan pers adalah salah satu pilar yang menjaga agar demokrasi tidak jatuh menjadi sekadar ritual lima tahunan.
Sebagai penjaga nurani publik, pers mengingatkan bahwa kekuasaan berasal dari rakyat dan harus kembali kepada rakyat. Ia memastikan bahwa suara yang lemah tidak tenggelam oleh propaganda, dan bahwa fakta tidak dikalahkan oleh opini yang dibayar.
Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bagi insan pers bukanlah “berapa banyak yang membaca tulisan ini?”, tetapi “apakah tulisan ini jujur pada nurani?”. Sebab, tulisan bisa dilupakan, tetapi pengkhianatan terhadap nurani akan selalu meninggalkan jejak.
Insan pers bukan hanya tentang menulis. Ia tentang keberanian untuk tetap waras di tengah hiruk-pikuk kepentingan. Tentang kesetiaan pada kebenaran ketika kebohongan lebih menguntungkan. Dan tentang menjaga agar nurani publik tetap hidup, bahkan ketika banyak orang memilih untuk mematikannya.
Selamat Hari Pers Nasional Tahun 2026, terima kasih kepada seluruh insan pers yang setiap hari berdedikasi menelusuri fakta dan menyuarakan aspirasi publik. Kebebasan pers adalah kebebasan rakyat, teruslah berkarya untuk kebenaran.





