Dalam keterangannya, Abdul Hasyim menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat secara langsung situasi strategis Nunukan sebagai daerah perbatasan yang memiliki pelabuhan internasional, yakni Pelabuhan Tunon Taka. Ia menegaskan bahwa latar belakangnya sebagai anggota kepolisian menjadi dasar dalam memahami pentingnya pengawasan di wilayah tersebut.
“BNN secara keseluruhan membutuhkan kolaborasi dan koordinasi yang kuat, khususnya dengan pihak kepolisian daerah. Apalagi dengan keterbatasan personel BNNK, sinergi menjadi kunci utama,” ujarnya, pada Senin (20/4/2026)
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa misi pemberantasan narkoba sejalan dengan visi Presiden menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, generasi muda harus dilindungi dari pengaruh negatif, khususnya penyalahgunaan narkotika.
“Kita harus menghindarkan generasi muda dari hal-hal negatif. Kami mendukung kebijakan Kabupaten Nunukan dan berharap seluruh pihak diberikan kemudahan dalam menjalankan visi dan misi ini,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Nunukan menyambut baik kunjungan tersebut dan mengapresiasi perhatian dari BNNP. Ia menjelaskan bahwa wilayah Kabupaten Nunukan memiliki luas yang sangat besar, bahkan menjadi salah satu yang terluas setelah Kabupaten Malinau.
Ia juga memaparkan tantangan geografis yang dihadapi, di mana terdapat wilayah seperti Krayan yang hanya dapat dijangkau melalui jalur udara. Krayan sendiri merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia.
Didampingi Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Raden Iwan Kurniawan, Bupati juga menjelaskan kondisi Pulau Sebatik yang menjadi wilayah terdekat dengan Tawau, Malaysia. Salah satu jalur penyeberangan terdekat berada di Aji Kuning dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
Kabupaten Nunukan sendiri terdiri dari 232 desa dan 21 kecamatan, dengan kondisi wilayah yang beragam, termasuk kawasan dengan potensi wisata alam seperti arung jeram.
Irwan menambahkan bahwa upaya pemberantasan narkoba di wilayah tersebut menghadapi tantangan besar. Banyaknya jalur tikus di perbatasan membuka peluang bagi pelaku kejahatan untuk melakukan penyelundupan.
“Memang sangat sulit memberantas narkoba di wilayah ini, sehingga dibutuhkan kerja sama dari semua pihak,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala BNN Kabupaten (BNNK) Nunukan, Anton Suriyadi Siagian, S.H., M.H juga menyampaikan kebutuhan akan lahan untuk pembangunan fasilitas rehabilitasi bagi pengguna narkoba. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung proses pemulihan bagi para korban penyalahgunaan narkotika.
Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi lintas sektor guna menciptakan wilayah perbatasan yang bersih dari narkoba serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.(Adv)





