Reses Terakhir di Sebatik Barat, Muhammad Nasir Serap Aspirasi 130 Warga Mantikas Binalawan dan Buka Puasa Bersama

oleh
oleh

NARASI POSITIF.com, KALTARA – Rangkaian reses Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Utara Komisi II Fraksi PKS, Muhammad Nasir, ditutup di wilayah perbatasan, tepatnya di Mantikas, Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan acara buka puasa bersama dan dihadiri sekitar 130 orang masyarakat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Liang Bunyu, Mansur, bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, para ketua RT, tokoh pemuda, pengurus masjid, serta para penggerak ibu-ibu.

Dalam suasana penuh kekeluargaan dan semangat Ramadhan, masyarakat menyampaikan berbagai aspirasi dan keluhan yang selama ini mereka rasakan, khususnya yang berkaitan dengan sektor perikanan, pertanian, dan lingkungan pesisir.

Aspirasi dan Keluhan Masyarakat Sebatik Barat meliputi:

Bantuan Sarana Prasarana Gapoktan

Kelompok tani dan nelayan (Gapoktan) mengusulkan bantuan sarana dan prasarana untuk mendukung usaha perikanan dan peternakan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bantuan Rumah Ibadah

Sejumlah tokoh agama dan pengurus rumah ibadah menyampaikan permohonan bantuan untuk pembangunan dan perbaikan sarana ibadah.

Solusi Sampah Plastik Budidaya Rumput Laut

Masyarakat menyampaikan persoalan serius terkait limbah plastik dari budidaya rumput laut. Mereka telah berkomitmen melakukan gotong royong setiap satu atau dua pekan sekali untuk membersihkan sampah plastik tersebut. Namun persoalannya, setelah sampah terkumpul dalam jumlah besar, belum ada solusi ke mana sampah itu harus dibawa atau bagaimana pengelolaannya.

“Semangat gotong royong sudah ada, tapi kami butuh solusi sistemik agar sampah ini tidak menumpuk dan merusak lingkungan,” ujar salah satu tokoh masyarakat.

Regulasi Pembangunan Pesisir dan Kebutuhan Jemuran Rumput Laut

Warga juga mengeluhkan adanya pelarangan dari pemerintah provinsi maupun pusat terkait pembangunan di wilayah pesisir yang dianggap berpotensi merusak ekosistem mangrove. Di sisi lain, para pembudidaya rumput laut membutuhkan lahan untuk pembangunan tempat jemuran rumput laut.

Masyarakat berharap adanya solusi yang adil dan berimbang antara perlindungan lingkungan dan keberlangsungan ekonomi masyarakat pesisir.

Menanggapi aspirasi tersebut, Muhammad Nasir menegaskan bahwa persoalan di wilayah pesisir Sebatik Barat membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan tidak bisa dilihat secara sepihak.

“Kita harus menjaga ekosistem mangrove, itu penting. Tapi kita juga tidak boleh mematikan mata pencaharian masyarakat. Harus ada solusi yang bijak, berbasis kajian, dan berpihak pada keseimbangan antara lingkungan dan ekonomi rakyat,” tegasnya.

Terkait persoalan sampah plastik budidaya rumput laut, ia menyatakan akan mendorong koordinasi lintas sektor agar ada sistem pengelolaan dan pengangkutan yang jelas, termasuk kemungkinan program pengolahan limbah berbasis masyarakat.

Untuk usulan bantuan sarana prasarana, rumah ibadah, serta dukungan terhadap kelompok tani dan nelayan, Nasir menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan secara bertahap melalui mekanisme anggaran dan pembahasan di DPRD Provinsi.

“Reses ini bukan sekadar datang dan mendengar. Ini komitmen perjuangan. Semua aspirasi akan kami kawal sesuai kewenangan. Yang menjadi kewenangan provinsi akan kami perjuangkan di DPRD. Yang menjadi kewenangan kabupaten akan kami koordinasikan agar bisa diperjuangkan bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa wilayah perbatasan seperti Sebatik harus mendapatkan perhatian lebih karena memiliki tantangan geografis dan ekonomi yang berbeda dibanding wilayah lain.

Kegiatan reses yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama tersebut menjadi penutup rangkaian lima titik reses di Kabupaten Nunukan.

Dengan semangat Ramadhan, aspirasi masyarakat dari pedalaman hingga pesisir telah dihimpun sebagai bahan perjuangan menuju pembangunan yang lebih adil, merata, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat Kalimantan Utara.(Adv)