Siswa SMKN 4 Tarakan Terpaksa Belajar di Gudang, DPRD Kaltara Minta Penanganan Serius

oleh
oleh

NARASI POSITIF.com, KALTARA – Kondisi memprihatinkan dialami sejumlah siswa di SMK Negeri 4 Tarakan, Kota Tarakan, yang harus melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bangunan bekas gudang akibat keterbatasan ruang kelas. Situasi ini menuai perhatian serius dari DPRD Kalimantan Utara dan menjadi sorotan publik.

Sejumlah orang tua siswa mengeluhkan kondisi ruang belajar yang dinilai tidak layak, mulai dari ventilasi yang kurang, ruangan berdebu, hingga minimnya fasilitas penunjang pembelajaran. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kenyamanan, kesehatan, serta kualitas proses belajar siswa.

Menanggapi hal itu, Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Utara, Supa’ad Hadianto, meminta pemerintah provinsi melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera melakukan penanganan konkret. DPRD menilai, penggunaan gudang sebagai ruang kelas hanya bisa dijadikan solusi sementara dan tidak boleh berlangsung dalam jangka panjang.

“Pendidikan adalah kebutuhan dasar masyarakat. Anak-anak kita berhak mendapatkan ruang belajar yang layak, aman, dan nyaman. Ini harus menjadi prioritas,” tegas Supa’ad Hadianto, pada Rabu (18/2/2026).

Pihak sekolah sendiri mengakui keterbatasan ruang kelas yang ada dan menyebutkan bahwa kebutuhan ruang belajar tambahan sudah berulang kali disampaikan kepada instansi terkait. Namun, hingga kini realisasi pembangunan ruang kelas baru masih menunggu proses perencanaan dan ketersediaan anggaran.

DPRD Kaltara juga mendorong agar persoalan ini segera dimasukkan dalam skala prioritas penganggaran, baik melalui APBD provinsi maupun dukungan program dari pemerintah pusat. Selain itu, DPRD meminta adanya pengawasan ketat agar proses perencanaan hingga pembangunan benar-benar berjalan sesuai jadwal.

Kondisi ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan di Kalimantan Utara, sehingga tidak ada lagi siswa yang harus belajar dalam kondisi yang tidak layak.