Dari Ruang Kelas ke Ruang Kebijakan: Kisah Arpiah Mengubah Ilmu Menjadi Pengabdian

oleh
oleh

NARASI POSITIF.com, NUNUKAN — Bagi sebagian orang, pendidikan mungkin berakhir ketika seseorang memperoleh gelar akademik. Namun bagi Ir. Arpiah, S.T., M.I.Kom, pendidikan justru menjadi awal dari perjalanan panjang pengabdian.

Dari ruang kelas di SMUN 1 Nunukan, berlanjut ke bangku kuliah Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar, hingga akhirnya berada di ruang parlemen sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Nunukan, perjalanan Arpiah memperlihatkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi kepedulian dan kerja nyata bagi masyarakat.

There is no gallery selected or the gallery was deleted.

Perempuan kelahiran Nunukan, 5 September 1980 itu, merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara. Selepas menamatkan pendidikan di SMUN 1 Nunukan pada 1999, ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin Makassar, pada 1999 hingga 2005, serta mendapatkan profesi insinyur pada tahun 2025 di Unhas.

Dari ruang kelas hingga ruang parlemen. Perjalanan hidup Arpiah, yang akrab disapa Kak Pia, memperlihatkan sebuah perjalanan pengabdian yang dibangun melalui pendidikan, organisasi, pemberdayaan masyarakat, hingga politik. Terkait pengabdian di dunia pendidikan selama kurang lebih 19 tahun, dan pernah terpilih sebagai Kepala Sekolah Penggerak Angkatan 1.

Latar belakang pendidikan teknik sipil dan komunikasi politik tersebut menjadi dua sisi yang kemudian saling melengkapi dalam perjalanan pengabdiannya.

Ilmu teknik membentuk cara berpikirnya terhadap pembangunan, perencanaan wilayah dan kebutuhan infrastruktur masyarakat. Sementara ilmu komunikasi politik memperkuat kemampuannya memahami dinamika sosial, menyampaikan gagasan dan membangun komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat.

Namun bagi Arpiah, pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh gelar akademik.Pendidikan, menurutnya, harus mampu melahirkan kepedulian dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Dari sinilah berbagai aktivitas sosial dan pemberdayaan masyarakat mulai dikembangkan. Perhatian Arpiah tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan manusia, keluarga, perempuan dan generasi muda.

Pilihan tersebut membawanya mengenal dunia pembangunan dari sisi teknis. Teknik sipil mengajarkannya tentang perencanaan, ketelitian dan bagaimana sebuah pembangunan harus dirancang agar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Namun perjalanan akademiknya tidak berhenti di sana. Arpiah kemudian melanjutkan pendidikan magister pada Jurusan Komunikasi Politik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Fajar Makassar.

Dua bidang ilmu tersebut kemudian menjadi bekal yang saling melengkapi. Teknik sipil membentuk cara pandangnya terhadap pembangunan fisik dan perencanaan, sementara komunikasi politik memperluas pemahamannya mengenai masyarakat, kepemimpinan dan proses pengambilan kebijakan.

“Di titik inilah pendidikan mulai menemukan maknanya yang lebih luas. Bagi saya membangun daerah bukan hanya perkara mendirikan gedung, jalan atau infrastruktur. Pembangunan juga menyangkut manusia yang menjadi bagian di dalamnya” ujarnya, pada Kamis (10/6/2026).

Karena itu, perhatiannya kemudian banyak diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia, keluarga, perempuan dan generasi muda.

Ketika Ilmu Berubah Menjadi Kepedulian

Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan sosial dan pemberdayaan yang dikembangkan secara bertahap.

Salah satunya melalui Yayasan Rumah Kita Berkah Sejahtera atau RKBS yang resmi diluncurkan pada 17 Maret 2025.

Arpiah berperan sebagai pembina yayasan yang dibangun sebagai wadah pembinaan generasi muda sekaligus sebagai bentuk keprihatinan terhadap berbagai persoalan pergaulan remaja di Nunukan.

RKBS mengembangkan tiga segmen program. Pertama, edukasi religi untuk membimbing generasi muda agar memahami dan menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, layanan konseling yang melibatkan sarjana psikologi dan guru.

Ketiga, pengembangan kewirausahaan melalui pelatihan bisnis bagi anak muda, termasuk memanfaatkan perangkat telepon seluler dan teknologi digital untuk membuka peluang ekonomi.

“Gagasan tersebut berangkat dari sebuah pandangan bahwa generasi muda tidak cukup hanya diberikan nasihat. Mereka juga membutuhkan ruang belajar, pendampingan, keterampilan dan kesempatan untuk berkembang” ucapnya.

Memperkuat Keluarga dari Rumah

Perhatian terhadap pembangunan manusia kemudian diperluas kepada keluarga. Melalui kiprahnya sebagai Ketua Bidang Perempuan dan Keluarga atau BIPEKA DPW PKS Kalimantan Utara, Arpiah turut menginisiasi Rumah Keluarga Indonesia atau RKI.

“Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kapasitas orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak” ucapnya.

Pembinaan keluarga, penyuluhan parenting, sekolah ibu dan ruang dialog mengenai ketahanan keluarga menjadi bagian dari kegiatan yang dikembangkan.

Bagi Arpiah, keluarga memiliki posisi penting dalam menentukan kualitas generasi masa depan. Karena itu, penguatan keluarga dipandang sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang tidak boleh diabaikan.

Dari sinilah perhatian terhadap perempuan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya.

Memberikan Ruang bagi Perempuan untuk Berkembang

Arpiah juga menginisiasi Kelas Inspiratif Profesional Muslimah atau KIPRAH. Program tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan bagi perempuan untuk meningkatkan kompetensi, keterampilan profesional serta wawasan.

Public speaking, kepemimpinan, manajemen waktu dan komunikasi efektif menjadi sejumlah keterampilan yang dikembangkan. KIPRAH tidak hanya mendorong perempuan agar memiliki kemampuan secara profesional, tetapi juga membangun jejaring dan kepercayaan diri agar dapat berkontribusi lebih luas di tengah masyarakat.

Semangat tersebut kemudian menemukan ruang lain melalui Kaukus Perempuan Politik Indonesia atau KPPI Kabupaten Nunukan.

Di organisasi tersebut, Arpiah bersama tokoh-tokoh perempuan lainnya mendorong peningkatan kapasitas politik, kepemimpinan dan kemampuan legislasi perempuan.

“Keterlibatan perempuan dalam politik bukan sekadar persoalan memenuhi angka keterwakilan. Yang tidak kalah penting adalah memastikan perempuan memiliki kapasitas untuk ikut menyusun dan mengawal kebijakan publik” Jelasnya.

Menaruh Perhatian pada Generasi Muda

Kepedulian terhadap generasi muda juga mendorong Arpiah mempelopori pembentukan forum konselor remaja dengan melibatkan sarjana psikologi di Kabupaten Nunukan.

Gagasannya adalah menghadirkan sistem pendampingan yang lebih dekat dengan kehidupan remaja.

Konsep konseling sebaya menjadi salah satu program utama. Remaja dan siswa SMA diarahkan mendapatkan pelatihan untuk menjadi konselor sebaya, dengan sarjana psikologi berperan sebagai pendamping dan rujukan ketika menghadapi persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Selain itu, terdapat gagasan psikoedukasi digital melalui media sosial serta layanan konseling keliling untuk menjangkau remaja di wilayah pelosok dan perbatasan.

Bagi daerah seperti Nunukan yang memiliki wilayah luas dan karakter geografis perbatasan, akses terhadap layanan pendampingan menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, mendekatkan layanan kepada masyarakat menjadi bagian penting dari gagasan tersebut.

Pengembangan di Bidang Perekonomian Masyarakat

Sosok Arpiah juga turut berperan aktif dalam peningkatan kesejahteraan roda ekonomi masyarakat dengan melibatkan berbagai generasi muda hingga orangtua. Inovasi yag sukses dilakukan dan terus beroperasi hingga saat ini, yaitu mendirikan Koperasi Rumah Kita Berkah Sejahtera.

Melalui koperasi tersebut, Arpiah berhasil membagikan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang cukup besar sehingga membantu peningkatan roda perekonomian seluruh anggota koperasi, dengan mengelola sebanyak 2 unit toko Nunukan Mart. Peningkatan roda ekonomi keluarga sangat penting dalam mewujudkan keluarga sejahtera.

“Melalui pengalaman ini, saya berupaya mendorong anak muda dalam membangun mindset bisnis, sehingga generasi muda bisa lebih banyak menciptakan inovasi dan kreatifitas” harapnya.

Dari Pengabdian ke Ruang Kebijakan

Kini, Arpiah berada di ruang yang berbeda. Sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Nunukan, ia memiliki ruang yang lebih luas untuk membawa berbagai pengalaman tersebut ke dalam proses kebijakan.

Jika sebelumnya gagasan pemberdayaan banyak diwujudkan melalui komunitas, organisasi dan kegiatan sosial, maka di lembaga legislatif gagasan tersebut dapat diterjemahkan melalui fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan.

Pengalaman sebagai akademisi teknik sipil membuat pembangunan fisik menjadi bagian yang tidak asing baginya.

Sementara pengalaman dalam organisasi, pemberdayaan perempuan, keluarga dan generasi muda membuat pembangunan manusia menjadi perspektif lain yang ikut dibawanya ke ruang parlemen.

Di sinilah perjalanan dari ruang kelas menuju ruang kebijakan menemukan maknanya. Ilmu yang dahulu dipelajari di bangku pendidikan tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi menjadi bekal untuk memahami persoalan masyarakat.

Memulai dari Hal Sederhana

Pada usia ke-46 tahun, tepat pada 5 September 2026, Arpiah kembali menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Pada hari miladnya tersebut, ia meluncurkan program Mukena Bersih. Program perdana dilakukan dengan menyalurkan mukena bersih ke enam masjid yang tersebar di empat kelurahan di Kecamatan Nunukan.

Program tersebut direncanakan dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan lokasi masjid yang berbeda.

“Insyaallah program mukena bersih ini akan rutin kami jalankan tiap bulan dengan titik masjid yang berbeda,” ujar Arpiah.

Bagi masyarakat, program tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu terdapat pesan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Membangun Bukan Hanya tentang Infrastruktur

Perjalanan Arpiah menunjukkan satu benang merah: pembangunan tidak semata-mata berbicara tentang infrastruktur.

Ada manusia yang harus dipersiapkan. Ada keluarga yang harus diperkuat. Ada perempuan yang perlu diberi ruang untuk berkembang. Ada anak muda yang membutuhkan pendampingan.

Dan ada masyarakat yang membutuhkan kebijakan yang mampu menjawab persoalan mereka.

Latar belakang pendidikan teknik sipil membentuk cara berpikirnya tentang pembangunan. Pendidikan komunikasi politik memperkuat kemampuan membaca dinamika masyarakat. Pengalaman organisasi mengasah kepemimpinan. Sementara aktivitas sosial mempertemukannya secara langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Kini seluruh pengalaman tersebut dibawa ke ruang kebijakan. Dari ruang kelas, Arpiah memperoleh ilmu. Dari organisasi, ia belajar memimpin. Dari masyarakat, ia belajar memahami kebutuhan. Dan dari ruang parlemen, ia memiliki kesempatan untuk membawa pengalaman tersebut menjadi bagian dari kebijakan pembangunan. Perjalanan itu belum selesai.

Sebab bagi Arpiah, pengabdian bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan.

Dari ruang kelas ke ruang kebijakan, ilmu tidak berhenti menjadi pengetahuan. Ia menemukan maknanya ketika berubah menjadi pengabdian dan memberikan manfaat bagi masyarakat.