NARASI POSITIF.com, Nunukan – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Nunukan terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui kegiatan membatik. Program tersebut berhasil melahirkan motif batik khas Nunukan hasil karya warga binaan yang dipadukan dengan identitas khas Lapas Nunukan.
Kepala Lapas Nunukan, Donny Setiawan mengatakan, pengembangan motif batik dilakukan dengan menelusuri sejarah dan budaya Kabupaten Nunukan, termasuk menggali unsur suku dan adat asli Kalimantan yang ada di wilayah tersebut.
Menurutnya, motif batik yang dikembangkan merupakan kolaborasi antara motif khas Nunukan “Lulantatibu” dengan ciri khas Lapas Nunukan sebagai identitas tersendiri.
“Kami cukup bangga karena hasil batik karya warga binaan sudah berhasil dan pernah digunakan pimpinan tinggi Ditjenpas serta jajaran lainnya,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan batik tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kreativitas warga binaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat bahwa Lapas Nunukan memiliki produk budaya khas yang bernilai dan berpotensi dipatenkan.
“Kegiatan membatik ini menjadi kesempatan luar biasa bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan hidup atau life skill, sehingga dapat meningkatkan kualitas SDM dan kreativitas mereka,” katanya.
Selain sebagai bagian pembinaan, program membatik juga diharapkan mampu melestarikan budaya daerah sekaligus menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
Lapas Nunukan menargetkan motif batik khas hasil karya warga binaan tersebut nantinya dapat dipatenkan sebagai identitas budaya dan produk unggulan di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.





