DPRD Nunukan Komitmen Dorong Kesetaraan Akses Anak Perempuan di Bidang Sains dan Teknologi

oleh
oleh

NARASI POSITIF.com, NUNUKAN – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan dan Anak dalam Sains Internasional yang di peringati setiap 11 Februari, Wakil Ketua DPRD Nunukan, Arpiah, S.T., M.I.Kom, menegaskan komitmen lembaga legislatif untuk terus mendorong kesetaraan akses pendidikan, termasuk di bidang sains, teknologi, engineering, dan mathematics (STEM).

Menurut Arpiah, DPRD Nunukan mendukung penguatan kebijakan pendidikan yang inklusif serta pengawasan terhadap pemerintah daerah agar anggaran pendidikan benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya perempuan.

“Sebagai lembaga legislatif, DPRD Nunukan berkomitmen mendorong kesetaraan akses pendidikan tanpa memandang gender. Kami juga terus mendorong agar anggaran daerah berpihak pada peningkatan kualitas SDM perempuan,” ujarnya.

Arpiah menjelaskan, hingga saat ini belum terdapat regulasi daerah yang secara spesifik mengatur penguatan peran anak perempuan di bidang STEM. Namun, kebijakan pendidikan daerah telah mengarah pada prinsip kesetaraan kesempatan dalam mengakses pendidikan. DPRD pun membuka ruang untuk menginisiasi regulasi yang lebih fokus jika dibutuhkan.

Terkait alokasi anggaran pendidikan, ia menegaskan bahwa anggaran tersebut diperuntukkan bagi seluruh peserta didik tanpa diskriminasi gender. Meski demikian, DPRD terus mendorong agar program literasi sains dan digital semakin diperkuat, sekaligus memastikan anak perempuan memperoleh akses yang setara.

Mengenai data partisipasi anak perempuan di jurusan IPA atau teknologi, Arpiah menyebutkan bahwa data teknis berada di Dinas Pendidikan. Dalam hal ini, DPRD menjalankan fungsi pengawasan serta mendorong penyediaan data terpilah berdasarkan gender sebagai dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Untuk wilayah perbatasan dan kepulauan seperti Nunukan, Arpiah mengungkapkan bahwa tantangan utama anak perempuan dalam mengakses pendidikan sains meliputi keterbatasan akses teknologi, kondisi geografis, serta masih tingginya angka pernikahan dini yang menyebabkan banyak perempuan tidak dapat melanjutkan pendidikan.

“Beasiswa yang ada saat ini bersifat umum dan dapat diakses oleh seluruh siswa berprestasi. Namun DPRD mendorong ke depan adanya afirmasi khusus bagi anak perempuan yang berprestasi di bidang sains dan teknologi,” tambahnya.

Dalam memastikan pemerataan fasilitas pendidikan, DPRD melalui fungsi penganggaran dan pengawasan terus mendorong pembangunan laboratorium, penyediaan perangkat digital, serta peningkatan kualitas tenaga pendidik, terutama di wilayah terpencil.

Arpiah juga menyampaikan bahwa isu kesetaraan gender dalam pendidikan telah menjadi bagian dari prioritas pembahasan DPRD, khususnya dalam kebijakan pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Jika belum terdapat kebijakan spesifik, DPRD siap menginisiasi regulasi melalui kajian bersama pemerintah daerah dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Ia menegaskan, stigma bahwa sains adalah dunia laki-laki kini semakin berkurang. Bahkan, di banyak sekolah dan perguruan tinggi, jurusan MIPA justru lebih banyak diminati oleh perempuan, meski di beberapa bidang teknik masih didominasi laki-laki.

Sebagai pesan kepada anak perempuan yang ingin berkarier di bidang sains dan teknologi, Arpiah menegaskan agar tidak pernah ragu mengejar cita-cita.

“Sains dan teknologi terbuka untuk siapa saja yang memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar. Teruslah belajar, percaya diri, dan manfaatkan setiap kesempatan untuk mengakses pendidikan,” pesannya.

Dalam lima tahun ke depan, Arpiah berharap semakin banyak perempuan Nunukan yang berkiprah sebagai peneliti, pengajar, maupun tenaga profesional di bidang sains dan teknologi, serta menjadi motor penggerak pembangunan daerah berbasis ilmu pengetahuan.(Adv)